“Diplomasi Tahi” untuk Malaysia

Kalau diplomasi yang sopan dan bermartabat tidak didengar, ya beginilah diplomasi yang dipilih.. (sumber: kaskus)

Aksi kelompok Bendera yang melempar kotoran ke kedutaan Malaysia beberapa waktu lalu sempat disesalkan oleh mantan Wapres Jusuf Kalla. “Bagaimana kalau kedutaan kita di Kualumpur juga dilempar seperti itu?” tanya Jusuf Kalla (vivanews.com).

Untuk pertanyaan Pak JK ini saya punya jawaban tegas. Kalau Kedubes RI di Malaysia dilempari sebongkah batu, kita akan balas lempari Kedubes Malaysia di Jakarta dengan 1000 batu. Kalau Kedubes RI di Malaysia dilempari kotoran, kita akan balas seribu kali lebih banyak.

Ini sikap yang sederhana dan tidak pandang takut. Kesabaran ada batasnya. Malaysia sudah sering membuat heboh Indonesia dengan perilakuknya yang sombong, tidak sopan, melecehkan, dan sama sekali tidak menunjukkan gelagat untuk menjadi tetangga yang baik. Jadi, kalau diplomasi gagal menjawab persoalan itu, dan pemerintah tidak menunjukkan sikap yang membuat Malaysia jera, jelas jawabnya adalah kreativitas masyarakat dalam bersikap.

Insiden pelemparan tai ke Kedubes Malaysia di Jakarta itu wujud kegeraman masyarakat terhadap Malaysia sekaligus simbol kekecewaan terhadap pemerintah RI sendiri. Dan ternyata insiden pelemparan tai itu ditanggapi luas di Malaysia sana (http://fokus.vivanews.com/news/read/173330-ekspresi-nasionalisme-yang-tidak-simpatik). Malaysia seperti tersentak dan mulai bereaksi lebih serius terhadap kekecewaan publik Indonesia.

Itu artinya, aksi semacam itulah yang lebih mendapat perhatian Malaysia. Kalau yang bicara Menlu atau Menkopolkam, rasanya dianggap angin lalu saja. Sebab nadanya juga begitu-begitu saja. Tetapi begitu “Diplomasi Tahi” yang bicara, gegerlah mereka. Panas juga mereka dan mulai coba menyerang balik.

Buat saya, “Diplomasi Tahi” atau diplomasi-diplomasi alternatif lainnya (baca Proposal 9: http://politik.kompasiana.com/2010/08/25/proposal-9-perang-sipil-gokil-ganyang-malingsia/) mungkin lebih efektif dan harus dilanjutkan dengan skala yang lebih besar. Untuk apa? Ini bukan saja bahasa yang paling bisa menarik perhatian media dan memancing perhatian Malaysia, tetapi sekaligus juga untuk membangunkan pemerintah yang sekarang. Bahwa, kalau diplomasi sopan tidak digubris, saatnya diplomasi alternatif dimajukan.[bersambung]

Advertisements
This entry was posted in KREATIVITAS AKSI INDONESIA. Bookmark the permalink.

2 Responses to “Diplomasi Tahi” untuk Malaysia

  1. ayaherafi says:

    salut-salut buat pahlawan haker indonesia raya dari sabang sampai merauke

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s